Skip to main content

Tafsir Al-Qur'an Abad ke 8

     Ada 3 tafsir yaitu Tafsir Syi`ah (Nahjul Bayan, Tafsir al-Muhith al-Adhom) Tafsir Sunni (Tafsir Ibnu Katsir) berikut adalah kelebihan dan kekurangannya :

     1. Kelebihan Tafsir Nahjul Bayan

    1. Menggunakan metode penafsiran bil ma’sur. Riwayat-riwayat yang digunakan adalah riwayat-riwayat dari Ahlul Bait dan beberapa riwayat sahabat.

   2. Menggunakan metode tahlili, yakni penafsiran dengan kata perkata dengan penafsiran secara sederhana (singkat)

     3. Kelebihan yang lainnya juga tafsir ini memiliki corak sufi dan tartibi.

          Kekurangan Tafsir Nahjul Bayan

     1. Riwayat-riwayat banyak dari kalangan Ahlul Bayt dan Sahabat. Tapi tidak menyebutkan sanadnya dengan lengkap.

      2. Penjelasan dari ayatnya terdapat unsur israiliyat.

     2. Kelebihan Tafsir al-Muhith al-Adhom.

       1. Metode tafsir ini adalah maudhui, ayat-ayat al-Qur’an yang berkaitan dikumpulkan dalam satu judul pembahasan tasawuf atau irfan.

     2. Tafsir ini bercorak sufi, tema-temanya banyak membahas tentang tasawuf atau irfan dan menggunakan riwayat-riwayat Ahlul Bayt.

      3. Kekurangan Tafsir al-Muhith al-Adhom

         1. Hadis-hadis yang di ambil dari tafsir tidak di sertai dengan sanad yang lengkap. Sehingga pembaca tidak bisa secara langsung memastikan keshahihan hadits yang digunakan dalam penafsirannya.

          2. Terdapat riwayat-riwayat dari para Imam, mungkin Imam yang di maksud adalah Ahlulbayt karena penafsir sendiri tidak mencantumkan nama-nama Imam yang meriwayatkan.

      4.     Kelebihan Tafsir Ibnu Katsir

      1. Tafsir paling masyhur dalam memberikan perhatian terhadap apa yang telah diberikan oleh mufassir salaf dan menjelaskan makna-makna dan hukumnya.

    2. Penafsiran antara Alquran dengan Alquran

 3. Banyak memaparkan ayat-ayat yang bersesuaian maknanya, kemudian diikuti dengan penafsiran ayat dengan hadist marfu’ yang ada relevansinya dengan ayat tersebut, serta menjelaskan apa yang dijadikan hujjah dari ayat tersebut. Kemudian diikuti pula dengan atsar para sahabat dan pendapat tabiin dan ulama salaf.

  4. Menyertakan peringatan terhadap cerita-cerita Israilliyat yang tertolak (mungkar) yang banyak tersebar di dalam tafsir-tafsir bil ma’tsur. Baik peringatan itu secara global atau mendetail.

   5. Bersandar pada riwayat-riwayat dari sabda Nabi SAW, para sahabat, dan tabiin.

  6. Keluasan sanad-sanad dan sabda-sabda yang diriwayatkan serta tarjihnya akan riwayat-riwayat tersebut.

 7. Penguasaan terhadap ayat-ayat nasikh mansukh, serta penguasaannya terhadap shahih dan sakimnya jalan-jalan riwayat.

 8. Penjelasannya dalam segi i’rab, dan istimbatnya tentang hukum-hukum syar‟i dan ayat-ayat Al-Quran.

   9. Menjadi literatur mufassir setelahnya, dicetak dan disebarkan ke penjuru dunia.

   10. Tidak mengandung permusuhan diskusi, golongan, dan mazhab. Mengajak pada persatuan dan memberi kebenaran bersama.

      Kekurangan Tafsir Ibnu Katsir

    1. Terhadap hadis dhoif dan pengulangan hadis shohi.

  2. Mengingatkan ayat-ayat israiliyat tanpa penegasan dan penyelidikan.

    3. Penukilan para sahabat dan tabi’in tanpa sanad.

    4. Bercampur yang shohi dan dan tidak shohi dan konfirmasi.

Comments

Popular posts from this blog

Pengertian Maqamat, Ahwal dan Manazil

Pengertian Maqamat Secara etimologis, maqamat merupakan jamak dari maqam yang berarti kedudukan, tempat, tingkatan (station), atau kedudukan dan tahapan menuju kepada Tuhan.  Maqam memiliki arti dasar “tempat berdiri”, dalam arti terminologi sufistik berarti tempat atau martabat seorang hamba pada saat ia berdiri menghadap kepada-Nya. Maka maqamat memiliki arti kedudukan seorang hamba di hadapan Allah Swt, yang diperoleh melalui latihan-latihan (riyadhah), amalan-amalan, dan lainnya yang tidak putus-putusnya dengan Allah Swt. Secara teknis maqamat bisa disebut juga sebagai aktivitas atau usaha seorang hamba untuk meningkatkan kualitas spiritual dan kedudukannya di hadapan Allah Swt dengan amalan-amalan tertentu. Maqamat menurut ahli 1. Menurut al-Qusyairi Maqamat adalah hasil usaha manusia dengan kerja keras serta keluhuran budi pekerti yang dapat membawanya kepada usaha dan tuntunan dari segala kewajiban. 2. Menurut al-Thusi Maqamat merupakan kedudukan hamba di hadapan Allah yang ...

Tafsir Ibnu Arabi Ta’wilat al-Kasyani Abdurrazaq Al-Kasyani

  Tafsir Ibnu Arabi Ta’wilat al-Kasyani Abdurrazaq Al-Kasyani             Ibnu Arabi merupakan seorang filsuf dan salah satu sufi terbesar dalam dunia Islam,. ia lahir di Mursia Spanyol. Kelahirannya beretpatan dengan era mulukut thawaif (pecahnya kerajaan menjadi kerajaan-kerajaan kecil), konflik, dan penyerangan kelompok reconquista (kelompok penakluk Kristen). Ia memulai pendidikan awalnya di Libanon, kemudian pindah da menetap di Sevilla, selama di sana Ibnu Arabi melakukan banyak rihlah ilmiah ke berbagai daerah seperti Tunisia, Aljazair, Makka, dan Mesir. Ia bertemu dengan banyak guru. Pergumulannya dengan banyak pemikir mengantarkan Ibnu Arabi memiliki ketajaman intelektualitas yang tinggi. Hingga di akhir perjalanan intelktual dan spritualitasnya, ia menempuh jalan menjadi seorang sufi.             Penafsiran Ibnu Arabi menuai banyak kontroversi di kalangan pa...

Pemgertian Manthuq

  A.     Pengertian Manthuq a.       Definsi Manthuq Secara etimologi manthuq berasal dari bhasa arab ( نطق -   ينطق ) yang artinya berbicara, ( منطوق isim maf’ul) berarti yang dibicarakan atau yang diucapkan. Dalam bahasa yang lebih mudah dipahami bahwa Manthuq merupakan apa yang ditunjukkan oleh lafadz pada saat penyampaian. Maksudnya definisi ini, Manthuq adalah makna tersurat yang dipahami seseoang dari sebuah ucapan. Konklusi dari pendefinisian Manthuq dan Mafhum dapat dipahami dari kata kunci diantara keduanya. Manthuq adalah petunjuk makna yang bersifat tekstual yaitu petunjuk yang telah jelas pada seluruh atau sebagian artinya berdasarkan tuturan lafadz itu sendiri.   Mantuq merupakan suatu makna yang ditujukkan oleh lafadz menurut ucapannya yakitu penunjukkan makna berdasarkan materi huruf-huruf yang diucapkan. Sedangkan mafhum adalah pemahaman terhadap makna yang tidak terdapat dalam suatu lafadz. Ole...